Mutasi Virus Covid-19 Terus Terjadi, Epidemiolog Sebut Potensi Vaksin Dosis Kelima

Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman mengingatkan jika mutasi virus SARS CoV 2 terus bermunculan. Vaksin dianggap ampuh mengatasinya, maka potensi vaksin kelima pun bisa saja ada. Tanda jika mutasi virus covid 19 masih ad adalah setelah BA.4 dan BA.5, sudah muncul sub varian BA.6. Mutasi virus terus muncul, dan ini bukanlah varian terakhir.

Karenanya, menurut Dicky ada beberapa hal yang tidak boleh ditinggalkan. Dari sisi masyarakat, harus tetap menjaga kedisiplinan dan konsisten dalam melakukan protokol Kesehatan. Lalu dari aspek pemerintah, perlu untuk melakukan deteksi dini dengan testing, treacing dan treatment.

Ditambah dengan proteksi dari vaksin Covid 19. Seluruh upaya ini yang akan mengurangi dampak dari setiap gelombang Covid 19. Vaksin memang efektif melindungi pasien yang terinfeksi dari keparahan dan kematian. Apa pun jenis variannya. Namun vaksin Covid 19 masih memiliki kelemahan.

"Durasi proteksinya terhitung singkat. Tidak lebih satu tahun, bahkan 6 bulan pun terlihat terjadi penurunannya," papar Dicky lagi. Oleh karenanya, dengan adanya keterbatasan vaksin Covid 19, perlu dikombinasi dengan deteksi dini dan protokol kesehatan. Sars cov2 ini akan terus bermutasi dan menurut Dicky masih mungkin akan muncul kehadiran mutasi yang bisa memperburuk situasi.

"Oleh karena itu potensi dibutuhkannya dosis kelima jelas ada. Sambil menunggu adanya vaksin generasi berikut, dengan harapan lebih bisa melindungi terinfeksi. Harapannya vaksin merah putih ini dapat mengisi kelemahan yang ada saat ini," tutup Dicky. Dicky Budiman juga mengatakan, tidak Hanya tenaga kesehatan, vaksin Covid 19 dosis keempat penting untuk kelompok berisiko lainnya.

Hal ini diungkapkan oleh pakar Epidemiologi Griffith University . Menurutnya ada dua jenis kelompok berisiko. Pertama, kelompok berisiko dari sisi pekerjaan seperti tenaga kesehatan.

Kedua, kelompok berisiko tinggi karena kondisi tubuh, misalnya orang lanjut usia. Selain itu, Dicky menyebutkan jika data menunjukkan, dari lima studi di dunia, dosis keempat vaksin Covid 19 bisa menurunkan potensi kematian. Selain itu, dosis keempat dapat menurunkan potensi keparahan yang menyebabkan masuk rumah sakit dalam melawan varian Omicron beserta turunannya.

"Sehingga, bukan hanya pada tenaga kesehatan saja. Vaksin dosis keempat juga dibutuhkan bagi mereka yang berisiko tinggi ini. Terutama pada lansia dan penderita komorbid. Jangan sampai di tengah program vaksinasi, korban berjatuhan," tegasnya. Kasus Covid 19 di Australia terus meningkat. Situasi ini cukup mengkhawatirkan. Hal ini diungkapkan oleh Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman. Ia pun memprediksi puncak kasus akan terjadi di pertengahan Agustus. Peningkatan kasus di Australia menurut Dicky tidaklah mengherankan. Karena, sub varian BA.5 memiliki kemampuan efektif yang dapat menyiasati antibodi. Sehingga bisa menginfeksi orang yang sudah divaksin.

Selain itu sub varian ini memiliki kemampuan bisa menginfeksi kembali. Meski sebagian besar mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. "Faktanya capai vaksin Covid 19 di Queensland untuk dua dosis sudah berada di angka 80 persen, yang merupakan total populasi. Sedangkan untuk dosis ketiga mendekati 50 persen," papar Dicky lagi. Ini menunjukkan bahwa kemampuan sub varian menginfeksi lebih dari pada lainnya. Kedua efektiftas vaksin dalam mencegah kematian dan keparahan. Makanya penting banget masalah vaksinasi. Termasuk peningkatan respon. Kualitas udara dan masalah masker.

Dicky sekali lagi mengungkapkan jika Australia masih menunjukkan perkembangan kasus Covid 19 yang sangat serius. Hal ini menegaskan jika sub varian BA.5 bukanlah sesuatu yang ringan. "Bahkan di era Delta, tidak ada kematian. Tapi setelah pembukaan, kehadiran Omicron dan sub variannya, kematian hampir tiap hari ada di sini," kata Dicky lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.